PALU – Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu terus mematangkan persiapan sebagai tuan rumah pelaksanaan Tanwir Muhammadiyah 2026 yang dirangkaikan dengan Milad ke-114 Muhammadiyah. Hingga pertengahan September 2026, kesiapan infrastruktur utama di kompleks Unismuh Palu dilaporkan telah mencapai sekitar 98 persen.
Tanwir Muhammadiyah dijadwalkan berlangsung pada 19–21 November 2026 dan dipusatkan di kompleks Universitas Muhammadiyah Palu, Sulawesi Tengah. Agenda tersebut menjadi salah satu forum strategis Muhammadiyah yang akan membahas arah dan program jangka panjang organisasi.
Ketua Panitia Penerima Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah yang juga Rektor Unismuh Palu, Prof. Dr. H. Rajindra, SE., MM, mengatakan kesiapan lokasi utama, khususnya Gedung Banua Kaili (GBK) Rusdy Toana, sudah hampir seluruhnya rampung.
“Tempat ini saya memperkirakan sudah siap, kira-kira 98 persen sudah siap ditempati,” ujar Rajindra saat memberikan keterangan kepada awak media di GBK Rusdy Toana, Minggu (20/9/2026).
Menurut Rajindra, sejumlah pekerjaan kecil masih dilakukan, terutama pembenahan toilet dan beberapa fasilitas pendukung. Namun, pekerjaan tersebut tidak menjadi kendala berarti bagi pelaksanaan kegiatan.
Sebagai tuan rumah, Unismuh Palu juga terus melakukan koordinasi terkait sarana dan prasarana, pelayanan peserta, akomodasi, transportasi hingga kebutuhan teknis lainnya. Rajindra menyebut kepercayaan menjadi tuan rumah merupakan sebuah kehormatan sekaligus amanah besar bagi Unismuh Palu.
Ia sebelumnya menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada Unismuh Palu untuk menjadi tuan rumah Tanwir 2026 dan rangkaian Milad ke-114 Muhammadiyah. Menurutnya, seluruh unsur kepanitiaan terus bekerja memastikan kebutuhan kegiatan dapat dipersiapkan dengan baik sehingga pelaksanaan berlangsung tertib, aman, nyaman dan berkesan.
Ketua PWM Sulteng: Tanwir Menjadi Momentum Strategis
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tengah, H. Muh. Amin Parakkasi, S.Ag., M.H.I., menilai pelaksanaan Tanwir di Palu memiliki arti penting bagi perkembangan Muhammadiyah maupun Sulawesi Tengah.
Menurut Amin, Tanwir 2026 bukan sekadar agenda organisasi, tetapi menjadi momentum strategis karena Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan membahas program jangka panjang organisasi untuk kepentingan umat dan bangsa.
“Tanwir kali ini menjadi saksi sejarah di Palu, karena Pimpinan Pusat akan merancang program jangka panjang untuk kepentingan organisasi, umat dan bangsa,” kata Amin.
Ia menjelaskan, Tanwir merupakan forum permusyawaratan Muhammadiyah di bawah Muktamar. Dalam forum tersebut, anggota Tanwir dari berbagai wilayah di Indonesia akan membahas sejumlah agenda strategis, termasuk persiapan menuju Muktamar berikutnya.
Amin juga menegaskan kesiapan Sulawesi Tengah untuk menerima seluruh peserta dan tamu yang datang. Menurutnya, menjadi tuan rumah bukan hanya persoalan penyelenggaraan kegiatan, tetapi juga kesempatan menghadirkan Muhammadiyah sebagai gerakan yang berkemajuan
“Kami ingin memastikan Sulawesi Tengah menjadi tuan rumah yang baik, ramah, dan tertib bagi seluruh peserta dan tamu yang hadir,” ujarnya.
Selain agenda persyarikatan, pelaksanaan Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah juga diharapkan memberikan dampak terhadap perekonomian Kota Palu.
Panitia memperkirakan jumlah peserta dan penggembira yang datang dapat mencapai 5.000 hingga 10.000 orang. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, panitia telah berkoordinasi dengan sejumlah hotel, penyedia transportasi, pelaku UMKM serta berbagai pihak yang berkaitan dengan pelayanan peserta.
Rajindra mengatakan kehadiran ribuan peserta dari berbagai daerah dapat membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk mendapatkan manfaat ekonomi. Produk-produk khas Sulawesi Tengah juga akan mendapat ruang untuk diperkenalkan kepada para peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Di sisi lain, kearifan lokal Sulawesi Tengah juga menjadi bagian dari identitas kegiatan. Salah satunya melalui penggunaan motif daun kelor pada logo dan batik Tanwir. Amin menjelaskan bahwa daun kelor dipilih karena memiliki nilai yang dianggap selaras dengan semangat Muhammadiyah, yakni sederhana, kaya manfaat dan mudah tumbuh.
Dengan kesiapan infrastruktur yang telah mencapai sekitar 98 persen, panitia kini memfokuskan penyelesaian sejumlah fasilitas pendukung sekaligus memperkuat koordinasi lintas pihak. Tanwir Muhammadiyah dan Milad ke-114 diharapkan tidak hanya menjadi agenda penting bagi Persyarikatan Muhammadiyah, tetapi juga menjadi momentum memperkenalkan Sulawesi Tengah, budaya, keramahan serta potensi ekonomi daerah kepada peserta dari seluruh Indonesia.
(HUMAS)
