PALU — Semarak kegiatan Tanwir dan Milad Muhammadiyah ke-114 menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman keislaman, memperluas wawasan keilmuan, serta meneguhkan komitmen umat Islam dalam membangun peradaban yang berlandaskan akhlak mulia dan amal nyata. Pesan tersebut mengemuka dalam tausiyah Ustaz Syamsi Ali, ulama asal Sulawesi Selatan yang telah berkiprah selama kurang lebih 30 tahun di New York, Amerika Serikat, yang berlangsung di Masjid Ulil Albab, Universitas Muhammadiyah Palu (Unismuh Palu).
Dalam tausiyahnya, Ustaz Syamsi Ali mengajak umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah di Sulawesi Tengah, untuk menjadikan Islam bukan sekadar identitas keagamaan, melainkan pedoman hidup yang tercermin dalam sikap, perilaku, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa kekuatan dakwah Islam tidak hanya terletak pada kemampuan menyampaikan pesan-pesan keagamaan secara lisan, tetapi juga pada keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai Islam harus hadir melalui kejujuran, amanah, sikap saling menghormati, serta kepedulian terhadap sesama.
Menurutnya, akhlak yang mulia merupakan salah satu cara paling nyata untuk memperlihatkan keindahan ajaran Islam. Karena itu, setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan nilai-nilai kebaikan dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun kehidupan sosial yang lebih luas.
“Sikap jujur, amanah, menghargai sesama, serta memberikan manfaat bagi orang lain merupakan bagian penting dari upaya menunjukkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata,” tegas Ustaz Syamsi Ali di hadapan ratusan jamaah.
Pengalaman Ustaz Syamsi Ali selama puluhan tahun berdakwah di Amerika Serikat menjadi salah satu poin penting dalam tausiyah tersebut. Berkiprah di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang agama, budaya, dan tradisi yang beragam memberikan pelajaran tentang pentingnya membangun komunikasi, memperkuat persaudaraan, serta menumbuhkan sikap saling menghormati.
Ia mengajak umat Islam untuk tidak menempatkan perbedaan sebagai penghalang dalam membangun hubungan kemanusiaan. Sebaliknya, perbedaan harus disikapi dengan kedewasaan, keterbukaan, dan semangat untuk menghadirkan kebaikan bersama.
Dalam konteks tersebut, umat Islam diharapkan mampu tampil sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat. Dakwah harus menghadirkan kesejukan, mempererat hubungan antarsesama, serta menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil ‘alamin.
Pesan ini dinilai relevan dengan tantangan dakwah kontemporer, ketika umat Islam dituntut tidak hanya memiliki pemahaman agama yang kuat, tetapi juga mampu menerjemahkan nilai-nilai keislaman ke dalam tindakan yang bermanfaat bagi kehidupan bersama.
Sebelumnya, Rektor Universitas Muhammadiyah Palu sekaligus Ketua Panitia Penerima Tanwir, Prof. Rajindra, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ustaz Syamsi Ali dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Ia menilai kehadiran ulama asal Sulawesi Selatan yang telah berkiprah selama sekitar tiga dekade di New York itu merupakan kesempatan berharga yang perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh seluruh peserta.
Menurut Rajindra, pengalaman dakwah di lingkungan masyarakat internasional memberikan perspektif yang luas mengenai pengembangan kehidupan keislaman, sekaligus menjadi sumber pembelajaran bagi warga Muhammadiyah dan masyarakat Sulawesi Tengah.
“Kesempatan seperti ini harus kita manfaatkan untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Tidak setiap saat kita bisa bertemu langsung dengan ulama yang memiliki pengalaman berdakwah di tengah masyarakat internasional,” ujar Prof. Rajindra dalam sambutannya.
Ia berharap, kehadiran Ustaz Syamsi Ali tidak hanya menjadi bagian dari kemeriahan kegiatan Tanwir dan Milad Muhammadiyah ke-114, tetapi juga memberikan inspirasi bagi peserta untuk memperluas wawasan, memperkuat pemahaman keagamaan, serta meningkatkan kualitas pengabdian kepada masyarakat.
Momentum ini sekaligus menjadi ruang silaturahmi dan pertukaran gagasan untuk mendorong kemajuan umat melalui pendidikan, dakwah, dan penguatan nilai-nilai moral.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tengah, Amin Parakkasi, menilai pengalaman Ustaz Syamsi Ali dalam membangun kehidupan keislaman di tengah masyarakat multikultural Amerika Serikat memiliki arti penting bagi pengembangan dakwah Muhammadiyah di Sulawesi Tengah.
Menurut Amin, pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi dalam memperkuat model dakwah yang mencerahkan, menyejukkan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Dakwah, dalam pandangan tersebut, tidak semata-mata berorientasi pada penyampaian ajaran agama, tetapi juga harus memberikan dampak positif terhadap kehidupan sosial. Pesan-pesan keislaman perlu disampaikan dengan bijaksana, mengedepankan akhlak, serta membangun hubungan yang harmonis di tengah keberagaman.
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan kegiatan Tanwir dan Milad Muhammadiyah sebagai momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam memajukan umat, meningkatkan kualitas kehidupan beragama, serta memperluas kontribusi Muhammadiyah bagi masyarakat.
Pengalaman dakwah lintas budaya yang dimiliki Ustaz Syamsi Ali diharapkan dapat memperkaya perspektif warga Muhammadiyah, terutama dalam menghadapi tantangan dakwah di era modern yang semakin terbuka dan dinamis.
Pesan utama yang mengemuka dalam kegiatan tersebut adalah pentingnya membangun peradaban Islam melalui keterpaduan ilmu pengetahuan, akhlak mulia, dan tindakan nyata.
Ilmu menjadi landasan untuk memahami persoalan dan menentukan arah kemajuan. Akhlak menjadi pedoman dalam menggunakan ilmu secara bertanggung jawab, sedangkan amal nyata menjadi wujud konkret dari nilai-nilai yang diyakini.
Ketiganya merupakan unsur penting dalam membentuk masyarakat yang berkemajuan, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Dalam semangat gerakan Muhammadiyah, penguatan ilmu pengetahuan perlu berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan peningkatan kualitas pengabdian. Keberhasilan dakwah tidak cukup diukur dari banyaknya pesan yang disampaikan, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilai Islam mampu membentuk pribadi yang jujur, masyarakat yang peduli, serta lingkungan sosial yang lebih baik.
Oleh karena itu, warga Muhammadiyah diharapkan terus mengembangkan tradisi keilmuan, memperkuat pendidikan karakter, dan menghadirkan program-program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Semangat tersebut juga menjadi pengingat bahwa kemajuan umat tidak dapat dibangun hanya melalui gagasan dan wacana. Diperlukan kerja nyata, konsistensi, serta keteladanan dari setiap individu dan institusi dalam menjalankan nilai-nilai keislaman.
Kegiatan di Masjid Ulil Albab Universitas Muhammadiyah Palu ini menjadi bagian dari momentum penguatan dakwah dan gerakan Muhammadiyah di Sulawesi Tengah. Kehadiran Ustaz Syamsi Ali, sambutan pimpinan universitas, serta pesan dari Ketua PWM Sulteng memberikan penekanan pada pentingnya mempertemukan wawasan keislaman, pengalaman dakwah, dan komitmen pengabdian.
Semarak Tanwir dan Milad Muhammadiyah ke-114 diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlanjut menjadi energi kolektif untuk memperkuat pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui momentum ini, warga Muhammadiyah diajak untuk terus memperluas wawasan, menjaga akhlak, mempererat persaudaraan, serta menghadirkan karya yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.
Pada akhirnya, pesan Ustaz Syamsi Ali menegaskan bahwa peradaban Islam yang kuat lahir dari perpaduan iman yang kokoh, ilmu yang luas, akhlak yang mulia, dan amal yang memberikan manfaat nyata. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting bagi Muhammadiyah untuk terus berkontribusi dalam membangun masyarakat yang berkemajuan, menjunjung tinggi kemanusiaan, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
(HUMAS)
