Palu, 18 April 2026 — Suasana hangat penuh kebersamaan menyelimuti kegiatan Syawalan Muhammadiyah Sulawesi Tengah yang digelar di Kota Palu pada Senin (20/4). Acara ini menjadi momentum penting bagi seluruh kader dan pimpinan Muhammadiyah se-Sulawesi Tengah untuk mempererat silaturahim sekaligus memperkuat komitmen organisasi pasca bulan suci Ramadhan.

Kegiatan yang dihadiri oleh ratusan warga persyarikatan ini berlangsung khidmat namun tetap sarat nuansa kekeluargaan. Para peserta datang dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah, menjadikan forum ini sebagai ajang temu lintas generasi dan lintas amal usaha.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tengah dalam sambutannya menekankan pentingnya peningkatan kualitas diri setelah menjalani ibadah Ramadhan. Ia menyampaikan bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan madrasah spiritual yang harus meninggalkan bekas nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Pasca Ramadhan, kita dituntut untuk menjaga konsistensi ibadah, memperkuat integritas, dan meningkatkan kontribusi nyata di tengah masyarakat. Inilah esensi dari kemenangan yang sesungguhnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga menyinggung kesiapan Sulawesi Tengah sebagai tuan rumah Tanwir Muhammadiyah tahun 2026. Menurutnya, momentum ini bukan hanya kehormatan, tetapi juga tanggung jawab besar yang harus dipersiapkan secara matang, baik dari sisi infrastruktur, koordinasi organisasi, hingga kesiapan sumber daya manusia.

“Kita harus menunjukkan bahwa Muhammadiyah Sulawesi Tengah mampu menjadi tuan rumah yang tidak hanya sukses secara teknis, tetapi juga memberi kesan mendalam bagi seluruh peserta Tanwir. Ini adalah kesempatan emas untuk memperkuat posisi kita dalam skala nasional,” tambahnya.

Sementara itu, dalam ceramahnya, Prof. Khairil yang merupakan salah satu pimpinan wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tengah mengangkat tema “Silaturahim sebagai Fondasi Sinergi Organisasi.” Ia menegaskan bahwa kekuatan Muhammadiyah terletak pada soliditas dan kebersamaan antar anggotanya.

“Silaturahim bukan hanya tradisi, tetapi strategi organisasi. Dari silaturahim lahir kepercayaan, dari kepercayaan tumbuh kolaborasi, dan dari kolaborasi tercipta kekuatan besar untuk mencapai tujuan bersama,” jelasnya.

Ia juga mengajak seluruh kader untuk menjadikan momentum Syawalan sebagai titik awal memperbaiki hubungan, menghilangkan sekat-sekat internal, serta memperkuat komunikasi yang konstruktif di semua lini organisasi.

Acara Syawalan ini ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah antar peserta. Kehangatan yang terjalin diharapkan menjadi energi baru bagi Muhammadiyah Sulawesi Tengah untuk terus bergerak maju, membawa misi dakwah dan tajdid di tengah masyarakat, serta menyongsong Tanwir Muhammadiyah 2026 dengan penuh kesiapan dan optimisme.

(HUMAS)