Pagi itu Rina terdiam di depan cermin. Ujung jarinya meraba benjolan kecil di leher yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Tidak sakit. Tidak mengganggu. “Ah, mungkin cuma biasa,” pikirnya, mencoba tenang.
Reaksi seperti Rina bukan hal asing di ruang praktik dr. Ade Triansyah, dokter bedah yang kerap menerima pasien dengan keluhan serupa. Banyak orang menunda pemeriksaan karena benjolan tidak terasa nyeri. Padahal, dalam dunia medis, benjolan adalah sinyal yang perlu dibaca dengan serius—tanpa panik, tetapi juga tanpa menunda.
“Tumor tidak selalu berarti kanker,” jelasnya. Tumor hanyalah istilah untuk jaringan yang tumbuh tidak normal. Sebagian jinak dan tumbuh lambat. Sebagian lain bisa ganas dan menyebar. Yang kerap disalahpahami, kanker tahap awal sering kali tidak menimbulkan rasa sakit. Nyeri biasanya muncul saat ukurannya membesar atau menekan saraf.
Ada tanda bahaya yang perlu diperhatikan: benjolan tidak hilang lebih dari dua hingga tiga minggu, membesar cepat, terasa keras, batasnya tidak jelas, atau seperti melekat pada jaringan sekitar. Perubahan kulit—menebal, tertarik, kemerahan menetap, seperti kulit jeruk, atau luka yang sulit sembuh—juga patut diwaspadai.
Benjolan di payudara, leher, ketiak, maupun selangkangan tak boleh diabaikan, terlebih bila disertai gejala lain seperti penurunan berat badan tanpa sebab, demam lama, keringat malam, atau perdarahan tidak normal.
Banyak orang takut datang ke dokter karena membayangkan operasi. Kenyataannya, pemeriksaan dimulai dari wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Jika perlu, dilakukan USG atau pencitraan lain. Pada kasus mencurigakan, kepastian diagnosis diperoleh melalui pemeriksaan jaringan (biopsi).
Rina akhirnya memutuskan memeriksakan diri setelah tiga minggu benjolan itu tak juga hilang. Keputusannya sederhana, tetapi penting: memastikan, bukan menebak.
Pesan yang ingin ditegaskan jelas—lebih baik diperiksa dan hasilnya jinak, daripada menunggu dan kehilangan waktu. Karena pada akhirnya, benjolan bukan untuk ditebak, melainkan untuk diperiksakan.
Sumber: dr. Ade Triansyah, M.K.M, Sp.B, FICS
