Remaja adalah fase hidup yang penuh perubahan. Tubuh berkembang cepat, emosi naik turun, dan rasa ingin tahu—termasuk soal tubuh dan relasi—semakin besar. Sayangnya, topik kesehatan reproduksi remaja masih sering dianggap tabu. Padahal, justru di usia inilah pemahaman yang benar sangat dibutuhkan. Secara teori, kesehatan reproduksi tidak hanya bicara soal organ reproduksi, tetapi juga mencakup kesehatan fisik, mental, dan sosial yang berkaitan dengan sistem reproduksi. Artinya, remaja yang sehat secara reproduksi adalah mereka yang paham tubuhnya, mampu menjaga diri, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab. Kurangnya informasi yang benar sering membuat remaja mencari jawaban dari sumber yang keliru: media sosial tanpa filter, mitos dari teman sebaya, atau konten yang tidak edukatif. Dampaknya nyata—mulai dari perilaku seksual berisiko, kehamilan tidak direncanakan, infeksi menular seksual, hingga tekanan psikologis seperti rasa bersalah dan kecemasan. Padahal, pendidikan kesehatan reproduksi yang tepat tidak mendorong perilaku menyimpang, justru sebaliknya. Berbagai kajian menunjukkan bahwa remaja yang memiliki pengetahuan reproduksi yang baik cenderung lebih mampu menunda aktivitas seksual, menjaga batasan diri, dan menghormati tubuhnya sendiri maupun orang lain. Kesehatan reproduksi remaja juga erat kaitannya dengan konsep self-respect dan self-control.

Mengenal perubahan pubertas, memahami siklus menstruasi, mimpi basah, kebersihan organ reproduksi, serta batasan dalam pergaulan adalah bagian dari literasi kesehatan dasar yang seharusnya dimiliki setiap remaja—tanpa rasa takut atau malu. Peran lingkungan sangat penting. Orang tua, guru, tenaga kesehatan, dan media memiliki tanggung jawab bersama untuk menciptakan ruang aman bagi remaja bertanya dan belajar. Remaja tidak butuh ceramah panjang, mereka butuh informasi yang jujur, ilmiah, dan disampaikan dengan bahasa yang membumi. Kesehatan reproduksi remaja bukan isu sensitif yang harus dihindari, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas generasi masa depan.

Pengetahuan yang benar membantu remaja melindungi diri, menghargai tubuhnya, dan membuat keputusan sehat—baik sekarang maupun nanti saat memasuki usia dewasa. Mari kita ubah cara pandang. Bicara soal kesehatan reproduksi bukan berarti mengajarkan hal yang salah, tetapi justru mencegah risiko yang lebih besar.Untuk para remaja: kenali tubuhmu, jaga dirimu, dan jangan ragu mencari informasi dari sumber yang tepercaya. Untuk orang tua dan masyarakat: dengarkan, dampingi, dan edukasi—bukan menghakimi. Karena remaja yang sehat hari ini adalah fondasi bangsa yang kuat di masa depan.

Sumber: dr. Irani Nur Ramadhani, M.K.M