Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, Prof. Dr. H. Rajindra, SE., MM menerima kunjungan dua penulis buku Jejak Perjuangan Rusdy Toana di ruang kerjanya, Senin (9/3/2026).
Kedua penulis tersebut yakni Pemimpin Redaksi Harian Mercusuar Tasman Banto dan Litbang Sulteng Raya, Dr. Fery, S.Sos., M.Si yang juga sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LP2AIK) Unismuh Palu
Dalam pertemuan tersebut, Rektor Unismuh Palu didampingi Kepala Biro Keuangan Unismuh Palu, Nasrul Hak, SE., MM.
Pada kesempatan itu, kedua penulis menyerahkan lima eksemplar buku kepada Rektor Unismuh Palu untuk selanjutnya ditempatkan di perpustakaan universitas sebagai bahan bacaan bagi civitas akademika.
Buku Jejak Perjuangan Rusdy Toana merupakan buku antologi yang memuat kumpulan tulisan sejumlah penulis mengenai sosok tokoh Sulawesi Tengah, Rusdy Toana, yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri di bidang pendidikan, dakwah, pers, dan kegiatan sosial.
Tercatat sebanyak 36 tulisan yang merangkum berbagai kenangan dan kesaksian banyak orang tentang Rusdy Toana, mulai dari sahabat, murid, kolega, hingga tokoh masyarakat yang pernah berinteraksi dengannya. Melalui tulisan-tulisan tersebut, Rusdy Toana tidak hanya dikenang sebagai tokoh dalam catatan sejarah, tetapi juga sebagai pribadi yang teguh, berani, dan tulus dalam pengabdiannya.
Salah satu tulisan dalam buku tersebut mengisahkan pengalaman Prof. Rajindra saat masih menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi Unismuh Palu dengan Rektornya saat itu, Rusdy Toana. Dalam tulisan itu, Rajindra menggambarkan sosok Rusdy Toana sebagai pemimpin yang dekat dengan mahasiswa, mampu menyelesaikan berbagai persoalan di kampus, serta berperan besar dalam menyiapkan kader-kader kepemimpinan di lingkungan perguruan tinggi.
Tasman Banto menjelaskan, gagasan penerbitan buku tersebut lahir dari kesadaran bahwa jejak perjuangan Rusdy Toana perlu didokumentasikan agar dapat dikenang oleh generasi mendatang.
“Sebagai seorang tokoh, jika jejak perjuangannya tidak diabadikan dalam sebuah buku, generasi mendatang mungkin tidak akan pernah mengenalnya. Saya sebagai pemimpin redaksi spontan berinisiatif mengumpulkan tulisan-tulisan teman-teman. Secara diam-diam saya kumpulkan tulisan itu dan dalam waktu sekitar 10 hari sudah cukup untuk diterbitkan menjadi sebuah buku,” ujar Tasman.
Sementara itu, Rektor Unismuh Palu Prof. Rajindra menyambut baik kehadiran buku tersebut. Ia menilai buku tersebut sangat layak dibaca oleh generasi muda agar dapat mengenal sosok Rusdy Toana secara lebih dekat.
Menurutnya, Rusdy Toana merupakan tokoh dengan karakter yang lengkap, tidak hanya sebagai aktivis, tetapi juga sebagai pendidik, cendekiawan, ulama, dan wartawan.
Bahkan, Prof. Rajindra mengaku mendukung apabila Rusdy Toana diusulkan sebagai Pahlawan Nasional atas kontribusinya bagi masyarakat dan dunia pendidikan.
Ia juga mengungkapkan bahwa Universitas Muhammadiyah Palu menjadi satu-satunya Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang menggunakan nama tokoh lokal pada salah satu gedung utamanya, yakni Gedung Banua Kaili (GBK) H. Rusdy Toana.
“Perguruan Tinggi Muhammadiyah lainnya umumnya menggunakan nama tokoh nasional. Sementara di Unismuh Palu, kami menggunakan nama tokoh lokal, yakni Rusdy Toana,” kata Rajindra.
Penggunaan nama tokoh lokal tersebut, lanjutnya, kerap menimbulkan rasa penasaran dari sejumlah pimpinan pusat Muhammadiyah yang berkunjung ke Unismuh Palu. Mereka sering mempertanyakan sosok Rusdy Toana serta alasan penggunaan namanya sebagai identitas salah satu gedung di kampus tersebut.
Di tempat yang sama, Fery berharap ini bukan buku terakhir yang mengulas tentang Rusdy Toana, Ia berharap akan ada buku-buku lainnya yang mengulas tentang perjalanan hidup dan perjuangannya, agar generasi muda semakin banyak bacaan yang bisa dijadikan sebagai reverensi tentang Rusdy Toana.
(HUMAS)
